Reporter : Sigit P
Bisnis
Kamis, 2 Juli 2026
Waktu baca 2 menit

Siginews.com-Jakarta — Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan angka inflasi Indonesia pada Juni 2026 mencapai 3,34 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dan 0,44 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Lonjakan inflasi pada bulan ini utamanya didorong oleh kenaikan harga bensin dan sejumlah komoditas pangan seperti bawang merah.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa kenaikan inflasi ini dipengaruhi oleh komoditas yang harganya bersifat fluktuatif dan musiman. Kendati demikian, pemerintah optimistis tekanan inflasi ini akan segera mereda dalam beberapa bulan ke depan.
“Saya harapkan sih nanti setelah harga minyak ini kan udah turun, harga Pertamax saya yakin akan turun pelan-pelan itu sesuai dengan harga minyak dunia. Jadi itu tekanan ke inflasi akan segera berkurang,” ujar Purbaya di Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Berdasarkan data BPS, kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar dengan andil 0,28 persen terhadap inflasi nasional, atau mengalami inflasi kelompok sebesar 2,29 persen.
Tiga komoditas utama pendorong di sektor ini adalah bensin dengan andil 0,21 persen, tarif angkutan udara sebesar 0,05 persen, serta pelumas atau oli mesin sebesar 0,01 persen.
Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 0,20 persen dengan andil 0,06 persen terhadap inflasi nasional.
Komoditas yang paling besar menyumbang inflasi pada kelompok ini adalah bawang merah dengan andil 0,04 persen, disusul bawang putih 0,03 persen, dan beras 0,02 persen.
Purbaya menegaskan, laju inflasi saat ini bukan disebabkan oleh lonjakan permintaan (demand) masyarakat yang berlebihan, melainkan murni karena faktor harga komoditas musiman.
Hal tersebut dibuktikan oleh kondisi inflasi inti (core inflation) Juni 2026 yang masih berada di level relatif terkendali, yakni sebesar 0,23 persen (mtm) dan 2,76 persen (yoy).
“Jadi itu karena harga yang fluktuatif saja, minyak, BBM, dan tadi harga pangan. Itu harusnya akan hilang dalam waktu beberapa bulan ke depan, karena core-nya masih stabil. Jadi kenaikannya bukan karena demand yang terlalu cepat,” pungkas Purbaya.
(Editor Aro)
#Ekonomi
#Harga BBM
#Inflasi
#Menkeu Purbaya




Headlines.Jumat, 21 Maret 2025

Ekbis.Minggu, 15 September 2024

Ekbis.Selasa, 15 Juli 2025

Headlines.Senin, 1 Desember 2025