Reporter : Sigit P
Headlines
Kamis, 30 Juli 2026
Waktu baca 3 menit

Siginews.com-Jakarta — Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menantang penyelenggara dan peserta Women’s Leadership Forum agar tidak sekadar menjadikan ajang tersebut sebagai ruang diskusi, melainkan berkembang menjadi action plan berkelanjutan yang turun langsung melihat praktik terbaik (best practice) di daerah.
Tantangan tersebut disampaikan Khofifah saat menjadi pembicara utama dalam Women’s Leadership Forum 2026 bertema “Breaking Barriers, Building Impact” di Aula Prof. Dr. Agus Dwiyanto, MPA, Kantor Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI, Jakarta, Senin (27/7/2026). Acara tersebut digelar dalam rangka Peringatan HUT ke-69 LAN RI.
“Kalau kita sepakat, ini bisa kita jadikan action plan. Jadi pertemuan ini bukan hanya pertemuan pikiran, tetapi mempertemukan bagaimana kerja-kerja efektif yang bisa kita lakukan bersama. Best practice di daerah sudah banyak yang bisa dilihat,” ujar Khofifah.
Dalam forum tersebut, Khofifah memaparkan materi bertajuk “The Leadership Behind the Impact: Kisah Jawa Timur Membangun Kepercayaan Publik”.
Ia menegaskan bahwa ukuran keberhasilan kepemimpinan perempuan tidak semata-mata dilihat dari jumlah jabatan strategis yang diduduki, melainkan dari hadirnya kebijakan publik yang inklusif, berkeadilan, dan berdampak nyata.
Menurut Khofifah, keberhasilan seorang pemimpin sejatinya diukur dari perubahan yang dirasakan langsung oleh masyarakat. “Forum ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan kebijakan publik yang inklusif dan berkeadilan gender,” katanya.
Mantan Menteri Sosial ini menilai, meski komitmen global seperti Beijing Platform for Action (BPfA) telah berjalan selama tiga dekade, penyelesaian isu kesetaraan gender di daerah pada dasarnya bermuara pada tiga sektor krusial: kemiskinan, kesehatan, dan pendidikan.
“Ketiga pilar itu adalah akar dari berbagai persoalan yang dihadapi oleh kaum perempuan maupun laki-laki. Oleh karena itu, strategi pengarusutamaan gender harus berfokus langsung pada penyelesaian masalah fundamental pada ketiga sektor krusial ini,” tegasnya.
Di hadapan para peserta forum, Khofifah membeberkan sejumlah capaian nyata pembangunan responsif gender di Jawa Timur. Indeks Ketimpangan Gender (IKG) Jawa Timur Tahun 2025 tercatat sebesar 0,329, lebih baik ketimbang rata-rata nasional.
Sementara itu, Indeks Pembangunan Gender (IPG) Jatim mencapai angka 93,29, yang menandakan kuatnya kesetaraan akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.
Capaian positif tersebut ditopang oleh serangkaian program terukur. Salah satunya adalah Program Jatim Puspa yang fokus menguatkan ekonomi keluarga penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH). Selama periode 2020–2025, program ini menggelontorkan anggaran Rp87,778 miliar dan menjangkau 31.024 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di 723 desa.
Selain itu, Pemprov Jatim meluncurkan gerakan GASPOL (Gerakan Sayang Perempuan Ojek Online) sebagai wadah pemberdayaan perempuan pengemudi ojek daring yang umumnya bertindak sebagai kepala keluarga atau single parent. Berbagai program perlindungan sosial di Jatim juga secara spesifik menyasar kelompok rentan lain seperti lansia dan penyandang disabilitas.
Mengakhiri paparannya, Gubernur Khofifah mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama menciptakan ekosistem yang suportif bagi kepemimpinan perempuan di segala lini.
“Kita bangun ekosistem yang bisa memberikan kepercayaan bahwa perempuan mampu melakukan hal baik, memiliki kompetensi dan kapasitas yang bisa diandalkan dan diunggulkan, sekaligus memberikan manfaat di semua lini,” pungkasnya.
(Editor Aro)
#Gender
#Gubernur Khofifah
#Jakarta
#Khofifah
#Women's Leadership Forum




Banyuwangi.Senin, 30 September 2024

Nasional.Senin, 14 Juli 2025

Hukrim.Senin, 21 Juli 2025

Bisnis.Sabtu, 3 Januari 2026