Reporter : Editor 01
Headlines
Minggu, 21 Juni 2026
Waktu baca 3 menit

Siginews.com-Surabaya – Persoalan pencemaran lingkungan di Kali Tebu, Kecamatan Kenjeran, Kota Surabaya kini telah meluas melampaui tumpukan sampah kasat mata.
Hasil penelitian terbaru dari mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menemukan bahwa partikel plastik berukuran sangat kecil atau mikroplastik teridentifikasi telah menyebar dan melayang di udara pada enam kawasan pengamatan di sekitar aliran sungai tersebut.
Kondisi ini memicu kekhawatiran serius lantaran partikel berbahaya tersebut berpotensi terhirup oleh masyarakat sekitar dalam aktivitas sehari-hari.
Ancaman kontaminasi udara ini terungkap di tengah operasi pembersihan Kali Tebu yang berlangsung selama dua hari berturut-turut pada Sabtu-Minggu, 20-21 Juni 2026.
Dalam aksi bersih-bersih darurat tersebut, tim gabungan yang terdiri dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, tim kebersihan Kecamatan Kenjeran, dan gerakan MOZAIK Ecoton sukses mengangkat sedikitnya 16 ton sampah plastik sekali pakai sebelum sempat hanyut mencemari perairan Selat Madura.

“Kami menemukan mikroplastik pada seluruh lokasi pengamatan. Temuan ini menunjukkan bahwa partikel plastik berukuran sangat kecil telah menyebar ke lingkungan sekitar sungai dan berpotensi terpapar kepada masyarakat melalui udara yang mereka hirup setiap hari,” ungkap Ketua Tim Peneliti UINSA, Davin Jauhar B, dalam keterangannya.
Riset independen yang dilakukan oleh Davin bersama rekan-rekannya (Ardina M, Intan Aura Cinta, Dito Herdianto, Elsa Pratiwi, dan Dewi Fitriana) mengonfirmasi total ada sedikitnya 103 partikel mikroplastik yang terjaring di enam titik lokasi.
Berikut ini rincian sebaran partikel mikroplastik di wilayah sekitar Kali Tebu:
Kelurahan Simokerto tercatat temuan kontaminasi tertinggi dengan 37 partikel (terdiri atas 22 partikel jenis fiber/serat dan 15 partikel fragmen).
Selanjutnya kelurahan Bulak Banteng ditemukan 22 partikel yang didominasi oleh polusi jenis fiber dan fragmen.
Sedangkan di kawasan Trash Boom menjadi titik pengamatan dengan konsentrasi terendah, yakni sebanyak 5 partikel. Diikut area Makam Rangka, Tanah Merah dan Kapas Jaya.
Davin memaparkan bahwa dominasi mikroplastik berjenis fiber (serat) ini mengindikasikan kuatnya dampak buruk aktivitas rumah tangga perkotaan, seperti pencucian pakaian berbahan tekstil sintetis, serta dampak degradasi dari berbagai kemasan plastik sekali pakai yang lapuk terpapar cuaca.

Selain menguji kualitas udara bersih, tim peneliti UINSA juga melakukan uji sampel kualitas air di sepanjang Kali Tebu.
Hasil laboratorium menunjukkan indikator yang mengkhawatirkan, di mana seluruh sampel air mengadung konsentrasi fosfat yang melampaui baku mutu air kelas I, II, dan III menurut Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021.
Titik tertinggi konsentrasi fosfat menyentuh angka 8,1 mg/L, yang diduga kuat dipicu oleh pembuangan limbah domestik berlebih sehingga berisiko merusak keseimbangan ekosistem lewat fenomena eutrofikasi. Sebaliknya, parameter klorin bebas masih terpantau aman di angka 0,00 mg/L.
Manager Data dan Informasi Program MOZAIK Ecoton, Alaika Rahmatullah, menegaskan bahwa timbulan 16 ton sampah didominasi oleh produk kemasan sachet, botol minuman kemasan, dan styrofoam. Data lapangan ini sinkron dengan studi global jurnal One Earth edisi Mei 2026 yang menyebut kemasan makanan-minuman sebagai polutan utama kawasan pesisir di 112 negara.
“Ketika plastik mulai terurai menjadi mikroplastik, dampaknya menjadi lebih luas karena dapat berpindah melalui air maupun udara. Karena itu, pengurangan plastik sekali pakai, penguatan sistem pengelolaan sampah, dan pengawasan kualitas lingkungan perlu dilakukan secara bersamaan,” pungkas Alaika mendesak penguatan koordinasi antarwarga hingga pihak kelurahan.
(Editor Aro)
#DLH Surabaya
#Penelitian
#Sampah mikroplastik
#UINSA Surabaya




Ekbis.Rabu, 7 Agustus 2024

Ekbis.Sabtu, 1 Maret 2025

Headlines.Senin, 1 Juni 2026

Jawa Timur.Selasa, 5 November 2024