Pasien Meninggal Dunia, Benarkah Super Flu Ganas? Ini Penjelasannya
Reporter : Editor 02
Headlines
Selasa, 13 Januari 2026
Waktu baca 2 menit

Siginews.com-Bandung – Munculnya varian baru virus influenza A(H3N2) Subclade K, atau yang populer disebut sebagai “Super Flu”, mulai menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat Indonesia.
Kabar mengenai meninggalnya salah satu pasien superflu memicu pertanyaan besar: benarkah varian ini lebih ganas daripada flu musiman pada umumnya?
Hingga akhir Desember 2025, tercatat sebanyak 62 kasus telah menyebar di 11 provinsi Indonesia, dengan titik panas terbanyak berada di Kalimantan Selatan, Jawa Timur, dan Jawa Barat.
Menanggapi isu tersebut, pakar kesehatan memberikan penjelasan untuk menenangkan publik.
Ketua Tim Infeksi Khusus RSUP dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, dr. Yovita Hartantri, menjelaskan bahwa varian H3N2 Subclade K ini memang memiliki karakteristik menular lebih cepat dibandingkan flu biasa, namun bukan berarti lebih mematikan secara sistematis.
Senada dengan data medis, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan penilaian berdasarkan data epidemiologi saat ini tidak menunjukkan peningkatan keparahan yang signifikan dibandingkan flu musiman.
Gejalanya masih identik dengan flu umum, seperti demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan pegal-pegal.
Risiko kematian biasanya berkaitan dengan kondisi penyerta (komorbid) atau keterlambatan penanganan pada kelompok yang sangat rentan.
Meski situasi nasional masih terkendali, dr. Yovita mengingatkan bahwa kewaspadaan tetap wajib ditingkatkan, terutama bagi mereka yang masuk dalam daftar populasi berisiko tinggi, yakni anak-anak dan perempuan (mayoritas kasus yang tercatat di Indonesia), lanjut usia (Lansia) dan orang dengan penyakit komorbid.
“Masyarakat perlu segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika memiliki penyakit komorbid atau merupakan populasi rentan. Sebaiknya segera datang jika ada keluhan demam disertai batuk, pilek, nyeri menelan, atau sesak napas,” tegas dr. Yovita, Minggu (11/1/2026).
Langkah Antisipasi: Kembalinya Protokol 5M
Karena penularan superflu terjadi melalui droplet (percikan cairan), metode pencegahannya tidak jauh berbeda dengan penanganan pandemi Covid-19. Pakar merekomendasikan:
– Gunakan Masker: Terutama saat berada di tempat umum atau ketika merasa tidak sehat.
– Vaksinasi Influenza: Langkah paling efektif untuk melindungi tubuh agar tidak terinfeksi, atau meminimalisir gejala agar tidak menjadi berat jika tertular.
-;Kebersihan Tangan: Rajin mencuci tangan dengan sabun.
– Gaya Hidup Sehat: Makan teratur, istirahat cukup, dan konsumsi vitamin.
“Pesan saya agar masyarakat tidak panik namun tetap waspada. Lebih baik mencegah daripada mengobati,” pungkas dr. Yovita.
Situasi saat ini menunjukkan bahwa meskipun virus ini “super” dalam hal kecepatan sebaran di lebih dari 80 negara, kunci utamanya tetap pada kedisiplinan protokol kesehatan individu untuk melindungi diri dan kelompok rentan di sekitar kita.
(Editor Aro)
#Influenza
#Kasus Super Flu
#Super flu
#Virus super flu



Berita Terkait

PSG vs Man City: Laga Penentuan di Liga Champions
Headlines.Selasa, 21 Januari 2025

Prabowo Kembali Menggelar Rapat Terbatas di Bogor, Ini yang Dibahas
Ekbis.Selasa, 24 Juni 2025

Atasi Rambut Rontok Secara Alami: Hanya dengan Konsumsi Jus
Lifestyle.Rabu, 3 Desember 2025

Ribuan Buruh Pabrik Rokok Grendel Antusias Sambut Cagub Risma
Headlines.Sabtu, 16 November 2024

