Shelter Indonesia Luncurkan Platform Digital Layanan Alih Daya
Reporter : Redaksi
Bisnis
Jumat, 17 April 2026
Waktu baca 3 menit

Siginews.com-Surabaya — Shelter Indonesia memperkenalkan arah baru perusahaan melalui agenda Corporate Branding: Brand Positioning Launch. Langkah strategis ini dilakukan untuk memperkuat posisi perusahaan sebagai penyedia solusi alih daya yang mengintegrasikan tenaga kerja dengan sistem teknologi digital.
Direksi Shelter Indonesia melihat adanya pergeseran kebutuhan pasar yang menuntut pengambilan keputusan berbasis data dan kendali operasional yang lebih kuat. Untuk menjawab tantangan tersebut, perusahaan meluncurkan platform Shelter+.
Ekosistem digital ini dirancang untuk mengintegrasikan berbagai alur operasional yang sebelumnya terpisah, seperti pemantauan keamanan via Shelter Guard, manajemen kebersihan melalui Shelter Cleaning, pelacakan penjualan lewat Sellgo, hingga pengelolaan tenaga kerja melalui Casual Work. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi dan transparansi bagi seluruh mitra bisnis di Indonesia.
Chief Executive Officer (CEO) Shelter Indonesia Hari Wahyudin mengatakan, arah baru ini berangkat dari kebutuhan untuk membangun operasional yang lebih utuh dan terkendali.
Menurutnya, tantangan operasional saat ini bukan lagi sekadar memastikan pekerjaan berjalan, tetapi juga memastikan setiap proses dapat dipantau, diukur, dan dikelola dengan lebih baik.

“Arah Shelter Indonesia ke depan adalah menjadi mitra strategis operasional yang mengintegrasikan sumber daya manusia dan teknologi, agar operasional klien dapat berjalan lebih terukur, transparan, dan terkendali,” ujar Hari, Jumat (17/4/2026).
Ia menambahkan, transformasi ini membawa Shelter Indonesia ke posisi baru. Perusahaan tidak lagi hanya hadir sebagai penyedia tenaga kerja operasional, tetapi berkembang menjadi ekosistem tenaga kerja terintegrasi yang memadukan sumber daya manusia dan teknologi untuk menjawab kebutuhan klien secara lebih menyeluruh.
Sementara, dari sisi pengembangan pasar dan solusi, Chief Marketing Officer (CMO) Shelter Indonesia Nino Mayvi menegaskan bahwa kebutuhan klien kini terus berkembang. Menurutnya, pasar tidak lagi hanya mencari dukungan tenaga kerja, tetapi juga menuntut visibilitas, kontrol, dan transparansi yang lebih kuat dalam operasional.
“Pasar hari ini tidak hanya membutuhkan tenaga kerja, tetapi juga membutuhkan visibilitas, kontrol, dan transparansi. Karena itu, kami membangun solusi yang relevan dengan kebutuhan klien modern,” kata Nino.
Ia menjelaskan, teknologi dalam konteks Shelter Indonesia bukan sekadar pelengkap, melainkan alat untuk menciptakan proses kerja yang lebih terlihat, dapat ditindaklanjuti, dan berbasis data.
Dengan sistem yang terintegrasi, klien tidak hanya menerima hasil akhir, tetapi juga memperoleh gambaran proses operasional secara lebih terbuka dan terstruktur.
Perspektif tersebut diperkuat oleh Business Consultant Shelter Indonesia Gordon John Stevenson, yang hadir memberikan pandangan dari sisi pengembangan bisnis dan pertumbuhan strategis.
Menurutnya, langkah yang dijalankan Shelter Indonesia bukan sekadar digitalisasi, melainkan respons strategis terhadap kebutuhan pasar yang terus berubah.
“Apa yang sedang dibangun Shelter bukan sekadar digitalisasi. Ini adalah respons strategis terhadap kebutuhan pasar sekaligus penegasan yang jelas mengenai arah perusahaan ke depan,” ujar Gordon.

Ia menambahkan, upaya Shelter Indonesia dalam menghubungkan berbagai elemen operasional ke dalam satu sistem terintegrasi menghadirkan tiga hal penting bagi dunia usaha saat ini, yaitu visibilitas, keterukuran, dan kendali.
Menurutnya, ketiga aspek tersebut menjadi fondasi penting bagi efisiensi operasional sekaligus keunggulan bersaing.
Melalui positioning baru bertajuk “A New Shape of Shelter Indonesia,” perusahaan ingin menegaskan bahwa masa depan layanan alih daya tidak lagi cukup bertumpu pada tenaga kerja semata. Ke depan, keberhasilan operasional akan semakin ditentukan oleh kemampuan mengelola aktivitas secara terintegrasi, memantau proses secara real-time, serta membangun sistem kerja yang lebih transparan, terukur, dan berbasis data.
Shelter Indonesia juga menegaskan bahwa teknologi tidak hadir untuk menggantikan peran manusia, melainkan untuk memperkuatnya. Sumber daya manusia tetap menjadi inti layanan, sementara teknologi berfungsi untuk mendukung akurasi, mempercepat koordinasi, memperkuat akuntabilitas, dan membantu klien memperoleh kendali yang lebih baik terhadap proses bisnis mereka.
Melalui langkah ini, Shelter Indonesia berharap dapat mengambil peran lebih besar dalam mendorong perkembangan industri alih daya menuju model layanan yang lebih modern, lebih terintegrasi, dan lebih relevan dengan kebutuhan dunia usaha saat ini.
(Editor Aro)
#Alih daya
#bisnis
#Ekonomi
#Launching layanan
#Outsourcing
#Outsourcing Indonesia
#Shelter Indonesia



Berita Terkait

Dua Korban Tambahan Reruntuhan Musala Teridentifikasi, Ini Asalnya
Headlines.Selasa, 14 Oktober 2025

Otonomi Desa Kuno dalam Tradisi Sedekah Bumi di Lamongan
Jawa Timur.Rabu, 23 Juli 2025

Jelang Penutupan Pendaftaran Pilgub Jatim, Kantor DPW PKB Jatim Sepi
Headlines.Kamis, 29 Agustus 2024

PBNU: Gelar Pahlawan Saja Tidak Cukup Bagi Pejuang NU
Headlines.Minggu, 10 November 2024

