Broken Strings: Ajakan Kritis Melawan Kekerasan Berbasis Gender
Reporter : Redaksi
Lifestyle
Minggu, 25 Januari 2026
Waktu baca 5 menit

Siginews.com-Lifestyle – Jangan salah sangka, kekerasan dalam pacaran tidak melulu soal pukulan fisik. Banyak dari kita yang masih terjebak dalam normalisasi pelecehan berbasis gender karena bentuknya yang sangat halus dan tersembunyi.
Inilah yang mendasari meledaknya popularitas buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans belakangan ini. Sejak dirilis 10 Oktober 2025 lalu, buku ini bertransformasi menjadi alat edukasi penting.
Melalui kisah personalnya, Aurelie membantu publik memetakan ‘zona abu-abu’ dalam relasi intim yang sering kali menyimpan bibit kekerasan di balik narasi kepedulian.
Kekerasan Berbasis Gender Tidak Selalu Berbentuk Fisik
Melalui Broken Strings, pembaca diajak menyadari bahwa kekerasan berbasis gender tidak selalu diwujudkan melalui pukulan atau bentakan.
Kekerasan dapat hadir dalam bentuk pengendalian emosi, manipulasi psikologis, dan ketimpangan relasi kuasa antara dua individu.
Dalam banyak hubungan intim, praktik-praktik ini sering disamarkan melalui narasi cinta, perhatian, dan kepedulian, sehingga sulit dikenali sebagai kekerasan.
Normalisasi inilah yang membuat banyak korban tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalami kekerasan emosional dan psikologis, karena tidak ada luka fisik yang tampak.
Broken Strings sebagai Alat Literasi Kekerasan Berbasis Gender
Sebagai karya sastra, Broken Strings memiliki nilai edukatif yang signifikan. Buku ini membantu pembaca mengenali tanda-tanda awal KPBG, terutama melalui penggambaran proses grooming yang berlangsung secara perlahan dan sistematis.
Hubungan ini sering kali dimulai dengan perhatian yang berlebihan, pujian, dan penciptaan rasa aman olleh pelaku. Pada tahap awal, relasi tampak sehat dan membahagiakan.
Namun seiring waktu, perhatian tersebut berubah menjadi tuntutan, pengawasan, serta kontrol emosional yang semakin intens.
Pola ini kerap dianggap wajar karena dibungkus dalam narasi cinta dan kedekatan emosional. Broken Strings membuka kesadaran bahwa kekerasan emosional sama nyatanya dengan kekerasan fisik, bahkan sering meninggalkan dampak jangka panjang yang lebih sulit dipulihkan.
Kekerasan Berbasis Gender Online dalam Era Digital
Dalam era digital, pemahaman tentang kekerasan berbasis gender online (KBGO) menjadi semakin penting. Kekerasan tidak lagi terbatas pada ruang fisik, tetapi juga terjadi melalui ruang digital.
Pesan intimidatif, tuntutan untuk selalu tersedia, pengawasan melalui media sosial (stalking), hingga manipulasi psikologis lewat komunikasi daring merupakan bentuk KBGO yang sering dianggap sebagai bagian “normal” dari hubungan. Padahal, praktik-praktik tersebut merupakan bentuk kontrol dan pelanggaran batas personal.
Broken Strings menegaskan bahwa kekerasan di ruang digital sama seriusnya dengan kekerasan di dunia nyata. Dampaknya mencakup kecemasan, rasa bersalah, ketakutan, hingga hilangnya otonomi dan kepercayaan diri korban.
Menggeser Narasi: Dari Menyalahkan Korban ke Memahami Relasi Kuasa
Salah satu kekuatan utama Broken Strings terletak pada kemampuannya menggeser pertanyaan publik. Selama ini, korban kekerasan berbasis gender kerap dihadapkan pada pertanyaan yang menekan: mengapa bertahan, mengapa membalas pesan, atau mengapa tidak menolak sejak awal.
Buku ini mendorong pembaca untuk mengalihkan fokus—dari menyalahkan korban menuju pemahaman tentang dinamika kekuasaan dalam relasi intim.
Tidak semua orang berada dalam posisi setara untuk mengatakan “tidak”. Perbedaan usia, pengalaman hidup, status sosial, dan gender sering kali membuat makna persetujuan menjadi kabur.
Pendekatan ini penting dalam edukasi kesetaraan gender, karena membangun empati sekaligus kesadaran struktural tentang kekerasan.
Relasi Intim, Normalisasi Kekerasan, dan Budaya Populer
Lebih jauh, Broken Strings menantang pembaca untuk mengakui bahwa banyak relasi intim yang dianggap “biasa” sesungguhnya dibangun di atas ketimpangan kuasa.
Ketika kecemburuan dimaknai sebagai bukti cinta, kontrol dianggap sebagai bentuk perhatian, dan pengorbanan sepihak dipuji sebagai kesetiaan, maka kekerasan berbasis gender menemukan ruang untuk tumbuh dan dinormalisasi.
Dalam konteks ini, membaca Broken Strings bukan sekadar aktivitas literasi, melainkan juga tindakan kritis dan politis untuk menolak normalisasi kekerasan dalam hubungan pribadi.
Pentingnya Literasi Gender untuk Remaja dan Generasi Muda
Broken Strings membuka ruang dialog tentang persetujuan, batas personal, dan hubungan sehat. Buku ini relevan sebagai materi literasi bagi pendidik, fasilitator, dan komunitas, terutama untuk remaja dan generasi muda yang hidup di ruang digital.
Isu-isu yang selama ini dianggap sensitif dapat dibicarakan secara lebih terbuka dan kontekstual, sekaligus membantu pembaca memahami bahwa hubungan sehat tidak dibangun di atas rasa takut, kontrol, atau rasa bersalah.
Kekerasan Berbasis Gender sebagai Masalah Sosial
Meskipun berangkat dari pengalaman personal, Broken Strings tidak berhenti pada kisah individu. Buku ini mendorong pembaca melihat kekerasan berbasis gender sebagai persoalan sosial yang memerlukan respons kolektif.
Literasi tentang KPBG tidak cukup hanya mengenali istilah, tetapi juga memahami dampaknya serta mengetahui ke mana harus mencari bantuan. Dalam hal ini, media, lembaga pendidikan, komunitas, dan platform digital memiliki peran penting dalam membangun ekosistem yang lebih aman dan berpihak pada korban.
Penutup: Broken Strings dan Pentingnya Edukasi Publik
Pada akhirnya, Broken Strings dapat dibaca sebagai sumber literasi yang membantu masyarakat membedakan antara relasi intim yang sehat dan yang berbahaya. Dengan menyadari bahwa kekerasan tidak selalu tampak secara kasat mata, pembaca diajak untuk lebih peka, kritis, dan berani menjaga batas personal serta mendukung penyintas kekerasan.
Jika kekerasan emosional terus dianggap wajar, risikonya tidak hanya dirasakan oleh individu korban, tetapi juga oleh masyarakat yang perlahan membentuk pemahaman keliru tentang cinta dan hubungan.
Normalisasi kontrol, manipulasi, dan pengabaian batas personal akan mereproduksi relasi timpang lintas generasi, membuat kekerasan berbasis gender semakin sulit dikenali, dilaporkan, dan ditangani.
Membaca Broken Strings pada akhirnya bukan hanya soal memahami sebuah cerita, melainkan tentang keberanian untuk menolak relasi yang menyakiti dan menuntut hadirnya ruang sosial yang benar-benar aman, setara, dan berpihak pada martabat manusia.
Di tengah budaya yang kerap meromantisasi kontrol, Broken Strings mengingatkan bahwa cinta tidak seharusnya melukai, apalagi menghilangkan otonomi siapa pun.
Penulis: citra@lenteraperempuanbestari
(Editor Aro)
#Aurelie Moeremans
#Broken Strings
#Buku broken strings
#Kekerasan Berbasis Gender
#Review Buku Broken Strings



Berita Terkait

Hore! Makan Gratis Tetap Diberikan Selama Puasa, Simak Skemanya
Headlines.Selasa, 21 Januari 2025

Tiga SPPG Baru di Cukir, Pulorejo, dan Perak Resmi Dibuka Serentak
Bisnis.Sabtu, 8 November 2025

Atdikbud KBRI Kirim 8 Mahasiswa Calon Guru, Belajar Sistem Pendidikan
Headlines.Kamis, 17 Oktober 2024

Laporan UNICEF Hari Anak Sedunia:Krisis Global Merampas Hak Dasar Anak
Ekonomi.Kamis, 20 November 2025

