Reporter : Redaksi
Jawa Timur
Minggu, 18 Januari 2026
Waktu baca 3 menit

Siginews.com-Lifestyle – Diet intermittent fasting (IF) memang semakin populer karena dianggap efektif menurunkan berat badan dan memperbaiki metabolisme.
Namun, di balik manfaatnya, muncul pertanyaan yang jarang diketahui, apakah diet IF bisa menaikkan kadar asam urat?
Jawabannya adalah bisa, tetapi tidak selalu, dan sangat bergantung pada cara menjalankannya.
Saat seseorang menjalani intermittent fasting, tubuh akan mengalami perubahan sumber energi.
Setelah cadangan glukosa habis, tubuh mulai membakar lemak dan menghasilkan *zat keton* sebagai bahan bakar alternatif.
Nah, dari sinilah awal mulanya, zat keton dan asam urat dibuang melalui jalur yang sama di ginjal.
Ketika kadar keton meningkat, ginjal akan “mendahulukan” pengeluaran keton.
Akibatnya, pembuangan asam urat menjadi terhambat, sehingga kadarnya di dalam darah bisa naik sementara.
Kondisi ini biasanya terjadi:
* Pada fase awal IF
* Saat puasa dilakukan terlalu lama
* Jika dikombinasikan dengan diet rendah karbohidrat ekstrem
Tenang, kenaikan asam urat akibat IF tidak dialami semua orang kok.
Risiko lebih besar terjadi pada:
* Orang dengan riwayat asam urat atau gout
* Mereka yang kurang minum selama puasa
* Konsumsi protein hewani dan jeroan berlebihan
* Orang dengan gangguan fungsi ginjal
Pada banyak kasus, peningkatan asam urat ini bersifat sementara dan akan membaik setelah tubuh beradaptasi.
Jika selama menjalani IF muncul gejala seperti:
* Nyeri sendi, terutama di jempol kaki
* Sendi terasa panas dan bengkak
* Nyeri muncul tiba-tiba, terutama malam hari
Sebaiknya hentikan puasa sementara dan evaluasi pola makan Anda.
Kabar baiknya, diet IF tetap bisa dilakukan dengan aman, bahkan bagi orang yang rentan asam urat, asalkan memperhatikan hal berikut:
1. Perbanyak minum air putih
Air membantu ginjal membuang asam urat dan zat keton. Usahakan minum 2–3 liter per hari ya, jangan kurang!
2. Hindari puasa ekstrem
Mulailah dari pola 14:10 atau 16:8, jangan langsung puasa panjang atau OMAD (One Meal A Day).
3. Batasi makanan tinggi purin
Kurangi konsumsi jeroan, daging merah berlebihan, seafood tertentu, dan kaldu kental.
4. Jangan terlalu rendah karbohidrat
Karbohidrat kompleks seperti nasi merah, oat, ubi, atau kentang rebus membantu mencegah lonjakan keton berlebihan.
5. Perbanyak sayur dan buah
Sayur dan buah rendah purin membantu metabolisme Anda dan menjaga keseimbangan asam urat.
6. Kurangi gula dan minuman manis
Fruktosa terbukti meningkatkan produksi asam urat lebih cepat dibandingkan jenis gula lainnya. Jadi, sebaiknya dikurangi ya.
Diet intermittent fasting memang berpotensi menaikkan asam urat, terutama di awal pelaksanaan, karena peningkatan zat keton yang menghambat pengeluaran asam urat di ginjal.
Namun, kondisi ini bukan larangan mutlak untuk menjalani IF.
Dengan pola puasa yang bertahap, hidrasi cukup, dan pemilihan makanan yang tepat, diet IF tetap bisa aman dan bermanfaat tanpa memicu masalah asam urat, oke? Salam sehat!
(Adentya Nabilah/Editor Aro)
#Asam urat
#Dampak diet puasa
#Diet
#Diet intermittent fasting




Bisnis.Rabu, 12 November 2025

Banyuwangi.Selasa, 22 Oktober 2024

Bisnis.Senin, 19 Januari 2026

Headlines.Jumat, 11 Oktober 2024