Hogere Burger School: Sekolah Penjajah yang Mencetak Musuh Penjajah
Reporter : Editor 02
Lifestyle
Minggu, 25 Januari 2026
Waktu baca 2 menit

Siginews.com-Lifestyle – Berdiri megah di jantung wilayah Ketabang, gedung bergaya kolonial yang kini dikenal sebagai SMA Komplek Surabaya menyimpan ironi sejarah yang mendalam.
Gedung yang dulunya bernama Hogere Burger School (HBS) ini dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda untuk mendidik elit kolonial, namun justru menjadi rahim bagi lahirnya para perlawanan dan pendiri negara Indonesia.
Dibangun pada tahun 1923 oleh arsitek J. Gesber, HBS di masa itu merupakan simbol eksklusivitas. Berlokasi di HBS Straat, sekolah setingkat SMA ini awalnya hanya diperuntukkan bagi anak-anak Belanda dan segelintir anak bumiputera dari keluarga pamong praja berkedudukan tinggi.
Namun, di balik dinding-dinding kokohnya, narasi perlawanan justru mulai tumbuh.
Mencetak “Pemberontak” Intelektual
Siapa sangka, bangku-bangku sekolah yang didesain untuk melanggengkan kekuasaan Belanda ini justru diduduki oleh pemuda-pemuda yang kelak meruntuhkan kolonialisme.
Nama paling ikonik adalah Soekarno, Proklamator sekaligus Presiden pertama RI.
Tak hanya Bung Karno, kurikulum HBS yang ketat—mewajibkan penguasaan bahasa Inggris, Belanda, Prancis, dan Jerman—ternyata menjadi senjata bagi para alumni untuk berdiplomasi di tingkat dunia. Sederet tokoh besar yang lahir dari sistem pendidikan “ningrat” ini antara lain:
– Dr. Roeslan Abdulgani: Mantan Menlu dan penasehat kunci kepresidenan.
– Dr. Soedjatmiko: Intelektual yang menjadi rektor Universitas PBB di Tokyo.
-;Dr. Widjojo Nitisastro: Arsitek utama ekonomi Indonesia modern.
Dari Pusat Edukasi Menjadi Markas Tempur
Sejarah mencatat bahwa gedung ini tidak hanya melawan melalui pemikiran, tetapi juga melalui kontak senjata fisik. Ironi mencapai puncaknya saat peristiwa 10 November 1945.
Gedung HBS yang merupakan simbol supremasi Eropa ini direbut dari tangan tentara Inggris dan dijadikan Markas Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP).
Para siswa yang seharusnya belajar, justru mengangkat senjata demi kedaulatan. Untuk mengenang darah para pelajar yang tumpah, sebuah prasasti batu kini berdiri di depan sekolah, menjadi saksi bahwa gedung ini telah beralih fungsi dari pusat pengajaran kolonial menjadi benteng pertahanan kemerdekaan.
Saat ini, kompleks gedung bersejarah tersebut dibagi menjadi empat SMA Negeri unggulan di Surabaya. Meski statusnya telah berubah, atmosfer arsitektur asli masih terasa kental.
Namun, ada satu bagian otentik yang kini tinggal kenangan. Ruang kelas legendaris di SMAN 5 yang dulu disebut “Kelas Bioskop Mitra”bdengan desain tempat duduk berundak layaknya teater yang telah dibongkar pada medio 2002-2003 atas nama modernisasi.
Padahal, ruangan tersebut merupakan bagian dari memori kolektif masa pendidikan para pendiri bangsa.
Gedung HBS adalah bukti nyata bahwa pendidikan, meskipun diberikan oleh penjajah, bisa menjadi senjata paling mematikan untuk membalikkan keadaan dan melahirkan sebuah kedaulatan baru bernama Indonesia.
(Editor Aro)
#Bangunan cagar budaya
#Cagar Budaya
#Gedung HBS Surabaya
#Hogere Burger School Surabaya
#SMA Komples Surabaya
#Warisan Sejarah



Berita Terkait

Kemenag Buka Program Beasiswa 1000 Santri Kuliah S1 hingga S3
Headlines.Kamis, 4 Juli 2024

Potret Kesenjangan Regulasi dan Realita Perlindungan Anak Indonesia
Headlines.Rabu, 23 Juli 2025

11 SMK Jatim Borong Emas di Ajang Kompetisi WorldSkills ASEAN 2025
Jawa Timur.Selasa, 2 September 2025

Kado Akhir Tahun:Tunjangan Guru Agama Non-ASN Naik Jadi Rp2 Juta/Bulan
Ekonomi.Kamis, 13 November 2025

