Reporter : Redaksi
Headlines
Jumat, 8 Mei 2026
Waktu baca 3 menit

Siginews.com-Lifestyle – Kita sama-sama tahu bukan, bahwa di Indonesia, bunga-bunga bukan hanya hadir sebagai elemen estetika, tetapi juga menyimpan nilai budaya, spiritual, dan ekologis yang kaya.
Di Indonesia, tradisi meronce atau menyusun bunga menjadi rangkaian seperti kalung, gelang, atau hiasan kepala, telah lama menjadi bagian dari berbagai ritual adat, upacara keagamaan, hingga kegiatan sehari-hari.
Di antara banyaknya jenis bunga, ada tiga yang kerap digunakan karena keindahan dan maknanya, melati, marigold, dan widuri (atau biduri).
Pesona Sederhana Bunga Melati
Jasminum sambac atau bunga melati dikenal sebagai simbol kesucian, ketulusan, dan kelembutan.
Aromanya yang harum dan bentuknya yang kecil membuatnya sangat cocok dirangkai menjadi untaian bunga.
Dalam tradisi Jawa, melati sering digunakan dalam pernikahan, terutama sebagai roncean yang menghiasi rambut pengantin wanita.
Bukan sekadar hiasan semata, bunga melati juga dianggap sebagai doa yang disematkan dalam bentuk bunga, harapan akan cinta yang murni dan kehidupan yang harmonis.
Warna Cerah dari Marigold
Berbeda dengan melati yang putih dan lembut, Tagetes erecta atau marigold tampil mencolok dengan warna kuning hingga oranye terang.
Di beberapa daerah, terutama di Bali, bunga ini sangat identik dengan persembahan keagamaan.
Marigold melambangkan kehangatan, energi, dan penghormatan kepada yang ilahi.
Dalam seni meronce, warna cerahnya memberi kontras yang hidup ketika dipadukan dengan bunga lain.
Selain itu, teksturnya yang cukup kuat membuatnya tidak mudah layu saat dirangkai.
Keunikan Bunga Widuri (Biduri)
Bunga ini mungkin tidak sepopuler melati atau marigold, Calotropis gigantea memiliki pesona tersendiri.
Bunganya berbentuk unik seperti bintang dengan warna putih keunguan yang lembut.
Widuri sering tumbuh liar di daerah kering, tetapi justru di situlah letak daya tariknya, tahan banting dan tidak mudah rusak.
Dalam beberapa tradisi lokal, bunga ini digunakan sebagai pelengkap rangkaian karena bentuknya yang artistik dan berbeda.
Selain itu, widuri juga dikenal memiliki nilai simbolis sebagai keteguhan dan daya tahan.
Namun, jika ingin meronce bunga widuri, Anda harus berhati-hati dengan getahnya yang beracun, sehingga cukup berbahaya untuk kulit.
Meronce bunga memang bukan hanya aktivitas kreatif, tetapi juga bentuk ekspresi budaya.
Setiap bunga yang dipilih memiliki makna, dan cara merangkainya pun sering kali mengikuti aturan atau filosofi tertentu.
Melati memberikan kesan lembut, marigold menghadirkan keceriaan, dan widuri menambahkan sentuhan unik yang tidak biasa.
Ketiganya menciptakan harmoni yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga sarat makna.
Di tengah modernisasi, tradisi meronce mungkin mulai tergeser oleh dekorasi instan.
Namun, justru di situlah pentingnya mengenali kembali bunga-bunga lokal ini.
Bukan sekadar dilihat sebagai tanaman, melainkan bagian dari identitas budaya yang hidup, dirangkai, diwariskan, dan terus diceritakan dari generasi ke generasi.
(Adentya Nabilah/Editor Aro)
#Bunga roncean
#Tradisi bunga ronce
#Tradisi roncean




Lifestyle.Senin, 4 Agustus 2025

Lifestyle.Sabtu, 10 Januari 2026

Headlines.Rabu, 11 Desember 2024

Headlines.Senin, 29 Juli 2024