siginews

Pasca Venezuela, Trump Bidik Mineral Greenland Demi Putus dari China

Reporter : Sigit P

Bisnis

Rabu, 7 Januari 2026

Waktu baca 2 menit

Pasca Venezuela, Trump Bidik Mineral Greenland Demi Putus dari China

Siginews.com-Internasional – Ambisi Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menguasai Greenland kembali memanas dan memasuki fase yang lebih agresif.

Pasca-operasi militer di Venezuela yang berhasil menculik Nicolas Maduro, Trump kini mengalihkan pandangannya ke Arktik.

Langkah ini ditegaskan bukan sekadar perebutan wilayah geografis, melainkan upaya strategis untuk menguasai kekayaan mineral guna memutus ketergantungan industri Amerika pada China.

Pada Selasa (6/1/2026), Pentagon secara resmi menyatakan bahwa penguasaan pulau terbesar di dunia tersebut merupakan “kepentingan strategis bagi keamanan nasional.”

Gedung Putih bahkan mengonfirmasi sedang mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk kemungkinan penggunaan kekuatan militer AS untuk mencapai tujuan tersebut.

 

Mineral Arktik dan Perang Dagang

Di balik bentang alam esnya, Greenland menyimpan cadangan mineral yang melimpah. Washington menilai kekayaan alam ini sejalan dengan ambisinya untuk melepaskan diri dari monopoli China atas bahan baku teknologi tinggi.

Trump menuding kedaulatan Denmark atas Greenland saat ini sebagai celah keamanan.

Ia mengeklaim pulau tersebut kini dipenuhi kapal Rusia dan China, sembari menyebut Denmark tidak memiliki kemampuan militer yang memadai untuk menjaga kawasan tersebut.

Dominasi di Greenland juga dianggap krusial bagi sistem pertahanan rudal balistik Amerika Serikat di wilayah utara.

“Penguasaan Greenland sangat krusial. Kita tidak bisa membiarkan lawan-lawan kita mengancam sistem pertahanan rudal balistik kita dari sana,” tegas pihak Gedung Putih dalam pernyataannya.

Iklan Wirajatimkso - Potrait

 

Eropa Bersatu Melawan Ambisi Paman Sam

Pernyataan keras dari Washington ini memicu gelombang perlawanan diplomatik yang jarang terjadi.

Para pemimpin Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol, Inggris, dan Kanada berdiri bersama Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, untuk menegaskan satu suara: Greenland milik rakyatnya sendiri.

“Keputusan terkait masa depan Greenland sepenuhnya menjadi kewenangan Denmark dan Greenland, tanpa campur tangan pihak lain,” tegas para pemimpin Eropa dalam pernyataan bersama.

Dukungan serupa datang dari Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, yang berencana mengirim utusan khusus ke Greenland bulan depan.

Sementara itu, Perdana Menteri Polandia, Donald Tusk, memperingatkan bahwa ancaman terhadap sesama anggota NATO dapat merusak kredibilitas aliansi pertahanan tersebut.

Di tengah ketegangan ini, Menteri Luar Negeri Denmark, Lars Lokke Rasmussen, membantah keras klaim Trump soal kehadiran masif militer China di wilayahnya.

Pemerintah Greenland sendiri melalui Perdana Menteri Jens-Frederik Nielsen telah mengajukan permintaan pertemuan mendesak dengan Menlu AS, Marco Rubio, guna mendinginkan suasana dan menuntut dialog yang saling menghormati.

 

(Editor Aro)

#Arktik

#AS

#Donald trump

#Greenland

#Trump

image ads default
Pasang Iklan di Sini
Jangkau ribuan pembaca setia setiap hari. Jadikan iklan Anda pusat perhatian.