Reporter : Siginews
Jawa Timur
Rabu, 15 Juli 2026
Waktu baca 3 menit

Siginews.com-Internasional – Prospek perdamaian di Timur Tengah kian suram. Ketegangan geopolitik global kembali membara setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran saling melancarkan gelombang serangan udara dalam sepekan terakhir, menyusul keputusan sepihak Teheran yang menutup Selat Hormuz pada Minggu (12/7).
Dampak dari memanasnya situasi di Teluk ini langsung memukul sektor energi global. Harga minyak mentah dunia melonjak tajam ke level tertinggi dalam empat minggu terakhir akibat kekhawatiran seretnya pasokan energi.
Berdasarkan data perdagangan pada Selasa (14/7/2026), harga minyak mentah Brent berjangka melejit US$ 2,89 atau 3,47 persen ke level US$ 86,19 per barel.
Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merangkak naik US$ 1,53 atau 1,96 persen ke posisi US$ 79,67 per barel.
Kesepakatan Damai Berantakan
Padahal, AS dan Iran baru saja menandatangani nota kesepahaman darurat pada 17 Juni lalu. Dalam perjanjian itu, Iran berkomitmen menjamin keamanan kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz selama 60 hari.
Namun, kesepakatan berantakan di awal Juli setelah Washington menuduh Teheran menyerang sejumlah kapal tanker. Puncaknya terjadi pada Minggu pekan lalu saat Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) resmi menutup selat tersebut dengan dalih ada kapal asing ilegal yang membahayakan keamanan maritim.
Oman melaporkan sebuah kapal berbendera Siprus yang membawa 24 kru dihantam di lepas pantai timurnya. Menanggapi klaim sepihak Iran, militer AS langsung merespons dengan menggempur sejumlah situs militer Iran dan menegaskan jalur internasional itu tidak berada di bawah kendali Teheran.
“Meskipun telah menandatangani nota kesepahaman dan mencapai kesepakatan, hal ini bahkan tidak bertahan selama beberapa minggu. Jadi itulah kekhawatiran yang coba diperhitungkan pasar saat ini,” ujar Analis ANZ, Soni Kumari, Selasa (14/7).
Pasokan Energi Global Terancam
Dampak penutupan jalur arteri yang mengangkut seperlima pasokan minyak dunia ini langsung terasa nyata. Data perkapalan mencatat arus lintas kapal tanker di Selat Hormuz merosot drastis ke level terendah dalam dua bulan terakhir.
Di tengah ketegangan yang meruncing, Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan dua kapal tanker minyak mereka dihantam rudal jelajah Iran di Selat Hormuz. Insiden ini menewaskan satu orang awak kapal berkebangsaan India dan melukai delapan orang lainnya.
Sebagai respons balasan, Presiden AS Donald Trump sempat memberlakukan kembali blokade laut terhadap pelayaran Iran pada Selasa kemarin, serta sempat mengusulkan pungutan biaya 20 persen bagi kapal kargo yang melintasi selat sebelum akhirnya dibatalkan.
Ketidakpastian energi ini diprediksi semakin panjang. Analisis dari Citi menyebut ada risiko harga minyak tetap bertahan tinggi di kisaran US$ 85 hingga US$ 90 per barel dalam jangka waktu lama jika gangguan keamanan di kawasan Teluk terus berlanjut.
Ditambah lagi, situasi kian kompleks dengan adanya eskalasi sekunder di luar Teluk, mulai dari serangan rudal milisi Houthi Yaman ke Arab Saudi hingga serangan pesawat tanpa awak Ukraina ke dua kilang minyak Rusia di wilayah Bashkortostan dan Krasnodar.
(Editor Aro)
#AS
#Harga minyak terbau
#Iran
#Konflik Timur Tengah
#Pasokan minyak
#Selat Hormuz




Headlines.Rabu, 19 November 2025

Headlines.Kamis, 13 Februari 2025

Ekbis.Jumat, 20 Juni 2025

Jawa Timur.Senin, 5 Mei 2025