Ini Tuntutan Demo Mitra Jagal Pegirian Surabaya
Reporter : Siginews
Bisnis
Senin, 12 Januari 2026
Waktu baca 2 menit

Siginews.com-Surabaya – Rencana relokasi aktivitas pemotongan hewan dari kawasan Pegirian ke Rumah Potong Hewan (RPH) Unit Tambak Osowilangun (TOW) memicu aksi penyampaian aspirasi dari para mitra jagal.
Dalam pertemuan dengan Pemerintah Kota Surabaya pada Senin (12/1), perwakilan mitra jagal menyampaikan sejumlah tuntutan dan poin keberatan yang menjadi sorotan utama.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemkot Surabaya, M. Fikser, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima 10 perwakilan jagal untuk mendengarkan keresahan mereka terkait kebijakan yang sudah direncanakan sejak tahun 2016 ini.
Berdasarkan hasil pertemuan tersebut, berikut adalah poin-poin utama yang menjadi tuntutan dan kekhawatiran para mitra jagal Pegirian:
– Penolakan Pemindahan Lokasi: Mitra jagal secara prinsip menyampaikan keberatan untuk pindah dari kawasan Pegirian yang sudah menjadi sentra aktivitas mereka selama bertahun-tahun.
– Jarak Lokasi (Aksesibilitas): Jarak menuju RPH TOW di Surabaya Barat dinilai menjadi kendala teknis bagi efisiensi kerja para jagal.
– Kesiapan Sarana dan Prasarana: Para jagal mempertanyakan kesiapan fasilitas di lokasi baru untuk mendukung volume pekerjaan mereka.
– Keamanan Alat Kerja: Adanya kekhawatiran terkait teknis penyimpanan alat kerja tajam di lokasi yang baru.
– Ketepatan Waktu Distribusi: Kekhawatiran bahwa perpindahan lokasi akan menghambat waktu distribusi daging segar ke pasar tradisional, khususnya ke Pasar Daging Arimbi.
Solusi dan Respons Pemerintah Kota
Menanggapi tuntutan tersebut, Pemkot Surabaya menegaskan bahwa kebijakan ini adalah bagian dari penataan kawasan tengah kota dan wisata religi Pegirian.
Namun, Pemkot menawarkan sejumlah solusi teknis sebagai jalan tengah:
– Pengaturan Ulang Jam Operasional: Untuk mengatasi masalah jarak, jam pemotongan diusulkan maju ke pukul 22.00 WIB (dari biasanya pukul 00.00 WIB) agar distribusi daging ke Pasar Arimbi tetap tepat waktu.
– Fasilitas Transportasi: RPH menyiapkan kendaraan pengangkut daging untuk menjamin kelancaran distribusi dari TOW ke sentra penjualan.
– Loker Keamanan: Menyiapkan loker penyimpanan khusus dan pendataan alat kerja tajam milik jagal agar aktivitas di RPH TOW berjalan tertib dan aman.
– Masa Transisi Panjang: Aktivitas pemotongan di Pegirian tidak langsung ditutup, melainkan tetap beroperasi berdampingan dengan unit TOW hingga usai Idulfitri 2026.
“Kami sangat menghormati penolakan mereka, namun kami akan terus melakukan pendekatan dialogis agar para jagal memahami bahwa tujuan kebijakan ini adalah untuk menyediakan tempat yang lebih representatif dan sesuai standar modern,” pungkas M. Fikser.
Sebagai informasi, RPH TOW merupakan fasilitas modern seluas 7.500 meter persegi yang dilengkapi IPAL representatif, kandang penampungan kapasitas 230 ekor sapi, serta 28 meja cacah yang didesain lebih higienis dibandingkan fasilitas lama.
(Editor Aro)



Berita Terkait

Truk Sruduk Pohon, Atap Warung Makan dan Toko Rusak di Dukuh Kupang
Hukrim.Selasa, 19 Agustus 2025

Sedekah Bumi Dukuh Karangan, Tetap Meriah Tanpa Dihadiri Wali Kota
Headlines.Minggu, 21 September 2025

Malang Gerak Cepat Bentuk Koperasi, 390 Unit Jadi Kop Des Merah Putih
Ekbis.Senin, 21 April 2025

Dampak Banjir Sibolga: Dua Jembatan Putus, 1.902 Rumah Terendam
Daerah.Jumat, 28 November 2025

