Reporter : Redaksi
Headlines
Rabu, 1 Juli 2026
Waktu baca 6 menit

Siginews.com – Perintah pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW dalam Al Qur’an dengan redaksi Iqra’ (bacalah)—bukan sekadar seruan untuk membangun kemampuan membaca dan melek aksara, melainkan imperatif teologis yang mendasarkan seluruh bangunan peradaban di atas fondasi intelektual yang kokoh.
Wahyu pertama dari surat Al-‘Alaq ini menegaskan bahwa aktivitas intelektual tidak bisa dipisahkan dari kesadaran ketuhanan, sebagaimana termaktub dalam frasa “Bismi Rabbik” (dengan nama Tuhanmu). Inilah yang membedakan konsep ilmu dalam Islam: ia adalah ibadah intelektual yang bertujuan menyingkap kebenaran Ilahiah di balik setiap fenomena material, sekaligus menjadi kompas moral bagi penggunaannya .
Di sinilah urgensi peran cendekiawan Muslim di tengah hiruk-pikuk zaman. Ia bukan sekadar teknokrat yang menguasai instrumen peradaban, melainkan suluh – penerang jalan yang mampu menyeimbangkan tiga kecerdasan sekaligus: *kecerdasan buatan (artificial intelligence), kecerdasan insani (human intelligence), dan kecerdasan ilahiyah (spiritual intelligence)*
Musyawarah Wilayah ICMI pada 4 Juli 2026 mendatang menjadi momentum strategis untuk meneguhkan kembali peran tersebut.
Bukan sekadar agenda pergantian kepemimpinan, melainkan titik balik untuk mengembalikan ruh ICMI sebagai gerakan intelektual yang membumi, berpihak pada rakyat, dan memiliki agenda besar pembangunan peradaban .
Krisis Intelektualisme dan Solusinya
Dalam bangunan idealismenya, Islam memberi tempat yang istimewa bagi ilmu pengetahuan. Orang yang berilmu diangkat derajatnya oleh Allah, dan manusia terbaik adalah yang paling banyak memberi manfaat, sesuatu yang mustahil dicapai tanpa ilmu yang dikelola dan disebarkan dengan sungguh-sungguh.
Namun sayangnya, tradisi keilmuan ini perlahan memudar ketika agama dipahami secara sempit dan intelektualisme dianggap “ancaman berbahaya” bagi kemapanan dogmatik.
Krisis ini diperparah oleh tiga faktor utama:
Pertama, kecenderungan ortodoksi keagamaan yang kaku dan tertutup, yang menghambat inovasi pemikiran. Alih-alih mendorong umat untuk berpikir kreatif dan produktif dalam menghadapi tantangan zaman, ortodoksi justru mengekang kebebasan intelektual dan menciptakan stagnasi, kemandekan kreatifitas.
Padahal, para ulama masa lalu seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, hingga Ibnu Khaldun mampu menunjukkan bahwa iman dan akal bukanlah dua entitas yang bertentangan, melainkan saling melengkapi, selaras dan terintegrasi.
Kedua, perguruan tinggi Islam yang terlalu berorientasi pada pasar sehingga “gagal” menciptakan creative minority—minoritas kreatif dengan keilmuan yang kokoh dan distingtif.
Banyak kampus hanya mengejar besaran jumlah mahasiswa, bukan kemampuan substansial dari mahasiswa itu sendiri. Akibatnya, lahir lulusan yang pragmatis dan instan, bukan generasi visioner yang akan memulai hidup mereka dengan mimpi-mimpi besar .
Ketiga, cendekiawan yang kehilangan “jalan pulang” – jalan kembali kepada umat, pengabdian yang memiliki nilai kebermanfaatan sosial. Ilmu yang terlalu lama terkurung dalam ruang seminar akan kehilangan ruh dan makna sosialnya.
Suluh Peradaban Inklusif: Menjembatani Tradisi dan Modernitas
Menghadapi ketiga krisis ini, intelektual Muslim dituntut untuk menjadi suluh (penerang) yang inklusif dan transformatif. Inklusif berarti membuka diri pada dialog lintas tradisi keilmuan.
Sementara transformatif berarti mampu menerjemahkan gagasan menjadi gerakan nyata yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, bangsa dan negara.
1. Inklusivitas Epistemologis: Menyatukan Dua Lautan Ilmu
Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, menyerukan agar pusat-pusat intelektual Islam menjadi simbol pertemuan antara rasionalitas Barat dan spiritualitas Timur, sebagaimana tafsir dari pertemuan dua lautan (majma’ al-bahrain) dalam surat Al-Kahfi . Ini bukan sekadar retorika, melainkan panggilan untuk merekonstruksi epistemologi keilmuan Islam agar tidak terjebak dalam dikotomi “ilmu agama” dan “ilmu umum”.
Pondok pesantren, misalnya, tidak bisa hanya menguasai Kitab Kuning (ilmu agama), tetapi harus menguasai apa yang disebut sebagai Kitab Putih—ilmu-ilmu modern seperti sosiologi, politik, dan sains. Sebab, zaman keemasan peradaban Islam seperti pada masa Baitul Hikmah di Baghdad hanya bisa tercapai karena adanya integrasi ilmu: para ulama tidak hanya mahir dalam ilmu agama, tetapi juga piawai dalam ilmu pengetahuan umum. Dengan kata lain, suluh peradaban harus mampu “menerangi tapi tidak menyilaukan” baik dimensi spiritual maupun material kehidupan.
2. Transformatif: Dari Gagasan ke Gerakan
ICMI lahir bukan sekadar sebagai ruang diskusi para intelektual, melainkan sebagai gerakan pemikiran yang menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Lahirnya Bank Muamalat Indonesia dan Republika dan menjamurnya Baitul Mal wat Tamwil adalah contoh nyata bagaimana gagasan keislaman diterjemahkan menjadi instrumen ekonomi dan media yang dirasakan umat.
Di masa itu, ICMI tidak hanya bertengkar dalam ruang gagasan, tetapi berani mengeksekusi gagasan menjadi solusi.
Karena itu, Muswil 2026 harus menghidupkan kembali semangat “Habibienomic”—fondasi bahwa bangsa yang besar harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi agar tidak menjadi bangsa konsumen.
Cendekiawan Muslim tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi harus menjadi penentu arah peradaban. Intelektual Muslim harus menjadi Trend Setter bukan hanya sebagai Follower.
3. Digital Khalifah: Menjawab Tantangan Era AI
Di tengah revolusi kecerdasan buatan, intelektual Muslim dihadapkan pada tantangan baru. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi mengingatkan bahwa “AI tanpa nilai = artificial insensitivity”.
Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi harus diarahkan untuk memperkuat kemanusiaan, bukan menggantikannya. Masjid kampus, misalnya, harus menjadi laboratorium peradaban yang melahirkan generasi yang bukan sekadar digital native, tetapi menjadi digital khalifah—memanfaatkan teknologi untuk kebaikan bersama dalam meneguhkan peran penting nya sebagai Khalifatullah fi Ardh.
Menyiapkan Creative Minority: Program Prioritas ICMI
Untuk mewujudkan peran suluh peradaban, diperlukan persiapan sistematis bagi minoritas kreatif—segelintir orang yang menjadi penggerak ( muharrik ) perubahan di tengah masyarakat. Program-program prioritas yang dapat diusung ICMI antara lain:
1. Penguatan kaderisasi berbasis karakter dan keilmuan. Pembinaan mental dan akhlak harus menjadi fondasi utama, karena tanpa karakter yang kokoh, tidak ada sense of crisis dan kesadaran akan problematika aktual di depan mata. Kurikulum kaderisasi harus memadukan pembinaan akhlak, penguasaan disiplin keilmuan tertentu, dan pelatihan kepemimpinan.
2. Aktivasi organisasi wilayah dan pembentukan orwil luar negeri. Ketua Umum ICMI Arif Satria telah menegaskan tujuh prioritas perjuangan ICMI pada 2026, termasuk penguatan ICMI sebagai rumah besar umat Islam dan aktivasi organisasi wilayah yang masih belum aktif .
3. Pengembangan program-program konkret di bidang pemberdayaan ekonomi umat, pendidikan, dan literasi digital. ICMI harus turun menyatu dengan denyut kehidupan masyarakat: membersamai petani, nelayan, guru, dan masyarakat kecil. Ilmu yang terlalu lama terkurung dalam ruang seminar akan kehilangan makna sosialnya .
4. Penguatan peran perempuan intelektual. Sejarah mencatat bahwa peradaban Islam tidak dibangun oleh satu kelompok saja. Fatima al-Fihri mendirikan Universitas Al-Qarawiyyin, Rufayda al-Aslamia menjadi perawat pertama dalam Islam, dan Lubna al-Qurtubiyyah mengelola perpustakaan kerajaan Cordoba. ICMI perlu memastikan ruang yang setara bagi intelektual Muslimah untuk berkontribusi.
Penutup: Menuju Peradaban yang Berjiwa
Ketika ilmu dipandu iman dan teknologi dikendalikan adab, maka lahirlah peradaban yang berjiwa. Muswil ICMI 2026 harus menjadi titik balik: bukan hanya memilih pemimpin, tetapi memilih jalan sejarah. Jalan yang mengembalikan ICMI sebagai gerakan intelektual yang membumi, berpihak pada umat, dan memiliki agenda besar peradaban serta melahirkan program program rintisan yang memiliki nilai manfaat dan Maslahat.
Semoga dari musyawarah ini lahir komitmen kolektif untuk menjadikan intelektual Muslim sebagai suluh yang tidak hanya menerangi dengan gagasan, tetapi juga menghangatkan dengan karya nyata. Sebab, dalam setiap kegelapan zaman, selalu ada cahaya yang harus dinyalakan. Dan cahaya itu dimulai dari keberanian berpikir, diiringi dengan kerendahan hati untuk mengabdi.
Wallahu a’lam bil asshowab
Penulis: Mochammad Yunus Basyaiban, Wakil Ketua ICMI Orwil Jatim Bidang Dakwah dan Pemberdayaan Umat
(Editor Aro)
#Muswil ICMI 2026




Headlines.Kamis, 4 Juni 2026

Headlines.Senin, 2 Desember 2024

Lifestyle.Selasa, 4 November 2025

Headlines.Rabu, 24 Desember 2025